KONSEP IMAN DAN KESEJAHTERAAN


KONSEP Iman dan Kesejahteraan.

By. Ichwan Mujahid Nusantara

Iman dan Kesejahteraan adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Seperti pohon dan buah. Walaupun terdapat juga pohon yang tidak berbuah, ada juga pohon yang buahnya sedikit tetapi sangat banyak manfaaatnya dan sebagaian pohon lainnya memiliki buah yang sangat banyak, lebih lebih manfaatnya seharusnya dan dari sekian banyak jenis buah buahan yang berwarna warni dan beragam, terdapat juga buah tangan, buah hati….dst

Allah swt berfirman,: Lauw aamanuu ahlul Quraa lafatahnal abwaabal Barakati minas samawaati wal ardh.

Ayat tersebut diatas memiliki dua penggelan kata yang saling memeiliki keterkaitan dan ketergantungan yang sangat kuat. Pertama adalah Kata atau Konsep “ Al Iman” atau Keimanan dan penggalan kedua adalah kata Albarakat atau Konsep kesejahteraan (keberkahan) “. Dari ayat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang beriman dalam artian sesungguhnya adalah orang beriman yang di ikuti dengan amal sholeh adalah yang dengannya Allah memberikan jaminan untuk hidup Sejahtera di dunia dan akhirat.

I. Konsep Iman.

Allah swt berfirman di dalam Surah Al-Baqarah “ Laisal Birra antuwaallu Wujuhakum ilal Masyriki wal Maghribi,…Walakinnal Birra man aamana Billahi wal yaumil akhiri, Wal Malalaakati Wal Kitaabi Wannabiyyin, Wa Atal Maala ala Hubbihi Sawil qurbaa wal Yataama Wal Masakina wabnis Sabiil, Wassailiina wa firrikaab, Wa akaama sholata, wa ataszakata wal Maufuuna Biahdihim Idza ahaduu, wassabirinaa fil ba’saai waddhorroi Wa hinal ba’si Uulaiika Ladzina sadaquu wa Ulaika humul Muttaqun.

Dalam suatu Hadist shohih diriwayatkan oleh Umar Ibnu Khottab Ra, berkata ketika Rasulullah saw sedang duduk bersama beberapa sahabat maka datanglah Malaikat Jibril as: mengajarkan tentang Islam, Iman dan Ihsan. Dari sinilah kemudian kita mengenal tentang 5 (lima) Rukun Islam yang wajib bagi seluruh Ummat Islam yakni Mengucapkan kalimat syahadat yaitu melakukan persakisian yang sebenar benarnya bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah swt dan Muhammad Rasulullah saw adalah utusan Allah, Mendirikan Sholat, Membayar Zakat, Berpuasa pada bulan suci Ramdhon, dan melaksanakan Ibadah haji bagi mereka yang mampu melaksanakannya. Selanjutnya, Jibril as: juga mengajarkan kepada kita melalui Rasulullah saw tentang Iman yang kita kenal dengan apa yang disebut dengan Rukun Iman yaitu Beriman kepada Allah swt, Beriman kepada Malakait, Beriman kepada Kitab kitab Allah swt yang telah diturunkan kepada Rasulnya “NIMIM” ( yakni kepada Nabi Nuh as Suhuf, kepada Nabi Ibrahim as: Kitab Zabur, Kepada Nabi Musa as; Taurat, Kepada Nabi Isa as : Injil, dan terakhir yang merupakan penyempurnaan sekaligus dijaga langsung oleh Allah swt akan kemurniannya yaitu Kitab Al;-Qur’an kepada Rasulullah Muhammad saw), Kemudian beriman kepada Rasul dan Nabis Allah swt, beriman kepada hari akhir (pembalasan) dan Ridho terhadap ketentuan Allah yang baik ataupun yang buruk. Dan terakhir, Jibril juga mengajarkan melalui Rasulullah saw tentang ke ikhlasan bahwa Ikhlas itu adalah menyembah atau beribadah kepada Allah swt seakan akan melihat Allah swt dan jika tidak, maka yakinlah bahwa Allah swt pasti melihat kita.

Imam Nawawi dalam menerangkan tentang takdir Allah swt menyatakan bahwa Takdir itu ada empat macam; pertama, Takdir dalam masalah Ilmu Allah swt sehingga dikatakan hidayah lebih didahulukan dari kedudukan, kebahagiaan didahulukan dari duka, membangun masa depan didahulukan atas apa yang telah berlalu, sebagaimana Rasulullah saw ” : Laa Yuhlaka Alal Lahi Illa Haalika” bahwa Allah swt tidaklah membuat sesorang menjadi Jahat kecuali memang dia itu Jahat yakni tertulis di dalam Ilmu Allah swt bahwa seorang tersebut adalah penjahat disebabkan pengetahuan Allah swt bahwa sesorang tersebut adalah jahat. Kedua, Takdir yang tertulis di “Lawkhul Makhfudz” yang menurut imam Nawawi takdir yang berada di lawkhiul Makhfudz tersebut dapat berubah, sebagaimana Allah swt berfirman” Yamhul Laahu Maa Yasyaaa Wa Yustbitu Wa Indahu Ummul Kitaab” yang Artinya Allah swt dapat merubah sesuatu hal atas Kehendaknya dan dapat Menetepkannya dan Dialah pemilik Kitab Utama yang berada di Lwkhiul Makhfudz tsb” . Sehubungan dengan hal ini, Ibnu Umar r.a pernah berdoa bahwa Ya Allah jika Engkau telah menuliskan diri ini sebagai orang yang bernasib Buruk, merugi atau Fasik maka berilah aku pemahaman dan tulislah aku sebagai orang yang berbahagia. Ketiga, adalah takdir saat seseorang berada didalam Rahim Ibunya dimana Malikat mendapat tugas dari Allah swt untuk menulis tentang rejeki, ajal, tentang umur dan tentang nasib bahagiaan atau duka (kerugian) seorang manusia. Ke empat, Takdir baik dan buruk bahwa Allah swt menciptakan kebaikan dan keburukan, Allah swt berfirman Bahwa “Sesungguhnya orang orang yang Mujrim itu berada dalam kegelapan dan kerugian”, Allah juga berfirman dalam surat Al Falaq, Aku berlindung dari para tukang nujum dan aku berlindung kepada Allah dari keburukan apa yang telah diciptakanNya”1. Imam Nawawi juga menegaskan bahwa Takdir yang berada di Lawkhul Makhfudz dapat dirubah sebagaimana didalam hadist Rasulullah saw bahwa sesungguhnya Sedekah dapat menyambung silaturrahmi yang telah putus dan bermanfaat bagi menghapus perbuatan buruk dan membuat hati menjadi bahagia”. Imam Nawawi juga mengutif Hadist Rasulullah saw tentang pertarungan dan perkelahian antara Doa dan Musibah yang saling melakukan pembunuhan dilangit bumi dan ketika Doa memenangkan pertarungan tsb, doa dapat menepis musibah sebelum diturunkan” . Lain halnya dengan Faham Qadariyah dan Kaum Majusi meyakini dan beranggapan bahwa Allah tidak menciptakan kejadian baik dan buruk dan baru kemudian mengetahui sesuatu setelah sesuatu telah terjadi. Keyakinan Qadariyah semacam ini adalah merupakan suatu kebohongan besar yang melakukan pengurangan terhadap Kebesaran dan kemampuan Ilmu Allah swt yang memiliki sifat dan Ilmu serta kekuasaan yang maha Tinggi suci dan Agung. Dialah yang Maha mengetahui tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, Dia jualah yang maha tahu tentang apa yang dhohir dan tentang apa yang kalian sembunyian. Sesungguhnya Allah juga maha mengetahui tentang segala yang Ghoib.

Dari hadist tersebut diatas dapat kita tarik beberapa keseimpulan :

Pertama, bahwa Iman adalah bukan sekedar keyakinan teguh tetapi menurut ijmaul ulama dan fuqaha adalah sesuatu yang harus di ikuti dengan iradah usaha dan amal sholeh sehingga keyakinan dan keimnan tersebut tumbuh menjadi rahmat dan kekuatan yang membumi dan bermanfaat, baik bagi Individu, maupun bagi masyarakat dan lungkungan serta alam sekitarnya. Rasulullah saw bersabda: Al Iman laisa Attamannu Wattahayyul” . Bahwa Iman adalah bukan sesuatu yang dapat di capai hanya dengan melamun dan berkhayal, melainkan sesuatu yang dicapai dengan usaha yang sungguh sungguh melalui berbagai upaya amal sholeh dan kerja keras dalam mencapai keyakinan sampai datangnya El Maut. Allah swt berfirman : “ Sesungguhnya Allah swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai suatu kaum tsb mengubah nasibnya sendiri”. Dalam banyak surat, Allah swt seringkali menggandengkan antara Iman dan amal sholeh Misalnya “ dalam surah Al Ikhlas, Wal asri Inal Insaana lafii Husrinn, Illal Lasiina amaanu wa amilussholihat ,….ila akhiri. Bahwa “Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu benar benar berada dalam kerugian kecuali orang orang yang beriman dan beramal sholeh serta saling ingat mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran dan bersabar dalam saling mengingatkan.”

Kedua, Bahwa orang yang telah Islam dan Muslim belum tentu beriman, tetapi sebaliknya orang yang beriman tidak diragukan lagi Keislamannya. Allah berfirman “Berkata orang A’rab yaitu orang orang Munafik Kami telah beriman , katakanlah kamu belum lagi beriman tetapi katakanlah kalian beru dikatakan islam”. Hal ini juga sesuai dengan realitas bahwa betapa banyak ummat Islam yang Sholat dan puasa serta haji tetapi secara mendasar jiwa mereka tidak beriman dan mengingkari serta mendustakan Allah swt, malaikat atau kitab dan hari pembalasan.

Ketiga, Para ulama berbeda pendapat tentang eksistensi karakter iman sebagai sesuatu yang baku (fixed) dan iman sebagai sesuatu yang mengalamai flaktuasi (naik – turun). Namun Jumhurul Ulama berkeyakinan bahwa Iman adalah sesuatu yang berfluctuasi dan dapat mengalami pasang surut sehingga diperlukan suatu perawatan atau maintenance dalam kuntinyuitas kelangsungannya yang berkesinambungan. Jika iman itu kita andaikan sebagai sesuatu yang memiliki jazad seperti mobil misalnya, maka agar mobil tersebut dapat tetap berjalan dan berfungsi dengan baik, mobil tersebut harus senantiasa dirawat di cunning, discharging batreinya diperbaharui olinya, diganti seat covernya yang sudah usang dijaga dari sengatan sinar matahari dan hujan lebat, dilap dan dicuci, sehingga bisa mengkilap seperti cermin yang dapat memantulkan cahaya gambar yang di hadapkan padanya. Jika mobil yang dalam realitas kehidupan sehari hari hanya merupakan alat transportasi dari suatu titik ke titik lainnya, kita hargai sedemikian rupa, lalau bagaimana dengan Iman? Iman adalah satu satunya alat transportasi utama yang dapat menyelamatkan kita dari perjalanan dunia menuju negara akhirat. Itu dilihat dari segi fungsinya yang satu arah (one traffic line) dan jika kita amati fungsi iman dari fungsinya yang ,muti dimensi maka dapat dipastikan bahwa iman memiliki pengaruh yang sangat besar dan luas dalam kehidupan pribadi, keluarga, maysrakat dan bernegara termasuk didalamnya pengaruh Iman terhadap kesejahteraan dunia dan akhirat seperti yang menjadi thema sentral kita saat ini.

Ke empat, bahwa Takdir Allah swt terbagi atas empat termasuk diantaranya takdir Allah swt yang tertulis di Lawhul Makhfudz yang menurut imam Nawawi bisa diubah dengan usaha, doa dan sedekah.

II. Ciri Ciri Orang Beriman.

Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita dapat mendeteksi keimanan kita. Persoalan ini memerlukan mujahadah dan usaha yang besar . Terdapat sejumlah ciri ciri orang yang beriman, diantaranya Allah swt menggambar dalam Surah Al Mukmin Allah swt berfirman “ Qad’ Aflahal Mukimunun, Alladziina fii Sholatihim Khosyiuun, Walladziinahum anil Laghwi Mu’ridhun, Walladziinahum Lizzakatii faailuun, wal Ladziinahum li furujihim Khofidzuun,…Illa ala adzwaajiihim auw maa malakat aimanuhum fainnahum ghoiru maluumiin, Walladzina ala shalawaatihim Yuhafidzuun, wal Ladzina li amanaatihim khofidzun Ulaaika khumul waaridzuun, alladziina yaridzuunal firdaus hum fiiha Kholidun. Ayat ini secara eksplisit menggambarkan ttg ciri ciri orang orang yang beriman yang dijanjikan kebahagiaan dan kesuksesan dunia serta Surga Firdaus yaitu :

1. Mendirikan Sholat lima waktu dengan Khusyu. Sholat yang khusyu adalah Sholat yang menghadirkan jiwa dan pikiran serta menundukkan seluruh raga dihadapan Allah swt disamping semaksimal mungkin mematuhi rukun, wajib dan syarat Sholat yang benar dan baik dengan mjerasakan bahwa kita sedang melihat dan merasakan kehadiran Allah swt, atau minimal kita dapat merasakan bahwa Allah pasti melihat kita. Sholat khusyu inilah yang kemudian dapat memberi manfaat individu dan sosial, salah satu diantaranya adalah “ Tanha anil Fahsyai wal Mungkar” menjadi perisai dan penghalang bagi kita dalam berbuat keburukan dan kejelekan. Disinilah makna Sholat sebagai ibadah ritual dan media pertemuan dengan Allah swt disuatu sisi dan ibadah sosial disi lain yang yang termanifestasi untuk selalu menghadirkan Allah swt pada setiap kegiatan individu dan sosial. Sehingga segala aktivitas ibadah seorang yang mukmin, baik itu dikantor, di pasar, dijalan ataupun dirumah dan dikamar pada saat sendirian atau berdua selalu diringin oleh eksistensi keberadaan Allah swt sebab “Wa Huwa Maakum Ainama Kuntum,….”. Dan Dia Allah swt selalu bersama kalaian dimanapun kalian berada. Danb dialah yang kedua atau yang ketiga, atau yang ke empat. (dilarang cemburu).

2. Menolak hal hal yang bersifat Laghwi, atau hal hal yang dapat melalaikan. Banyak hal yang dapat melalaikan kita dari mengingat dan melaksanakan kewajiban kita kepada Sang Kholiq Allah swt. Misalnya, apa ya…Televisi, Gaple dan Catur atau apa saja yang membuat kita bisa lalai sampai lupa Sholat. Pada dasarnya Nonton Televisi, Main Gaple dan caturnya sih sah sah saja, silahkan nonton atau bermain sepanjang jangan di ikuti dengan taruhan, tetapi ingat jangan hal itu menyebabkan kita menjadi lali dan lupa akan kewajiban kita kepada Allah dan mengingat Allah swt. Diterangkan didalam Riwayat Hadis Rasulullah didalam kitab hadist Sunan Ibnu Daud Bab Sholattul Khouf bahwa saking pentingnya apa yang disebut dengan Sholat, Rasulullah memerintahkan Sholat untuk selalu didirikan kendatipun dalam keadaan berperang dan menghadapi dentuman serangan tembakan Musuh. Demikian juga dalam bab dan Sholatul Matlub Rasulullah pernah memerintahkan salah seorang shahabat untuk membunuh Seorang pembesar Quraisy yang mengumpulkan orang orang kafir untuk memerangi Rasulullah dan kaum Muslimin, tetapi ditengah jalan sahabat tersebut tertangkap waktu Ashor sehingga shabat tsb terpaksa sholat sambil jalan sebelum kemudian menusukkan pedangnya ke pembesar Quraisy yang di incarnya.

Oleh sebab itu, sudah menjadi konsekwensi bagi mereka yang menolak Laghwi untuk selalu berusaha menyibukkan diri dengan hal hal yang bermanfaat, sehingga Laghwi itu tidak memiliki kesempatan untuk mengelabuinya. Misalnya, dengan membuat alakahs pengajian dan penambahan ilmu semacam yang kita lakukan sekarang ini,…alakah semacam ini sepintas lalu mungkin sangat sederhana dan nampak sedikit sekali manfaatnya bagi orang yang tidak mengetahui hakikatnya. Tetapi bagi yang mereka yang menetahui hakikatnya adalah sangat luar biasa dan dahsyat, sebab dalam salah satu Hadist disebutkan bahwa alaqah imaniah dan ilmiah semacam ini, tidak hanya menambah ilmu dan iman serta pengalaman, tetapi juga dihadiri oleh para malaikat yang sibuk berdoa bagi mereka yang hadir dalam alaqah tsb. Bayangin aja kalau yang doain malaikat, yang kita tahu Malaikat adalah merupakan makhluk al Muqarrabin atau yang yang paling dekat dengan Allah swt dan tidak pernah berbuat dosa. Di doain anak atau keluarga atau teman aja aku hobby kok.

3. Walladziinahum Lisdzakaatii Faailun. Kenapa kok Dzakat ? sebab pada point pertama Allah menyeruh hubungan yang kuat terhadap Allah swt atau hablum minallah dengan mendirikan sholat dengan Khusyu. Kemudian pada point kedua diatas, Allah seakan akan menitip pesan khusus bagi setiap manusia untuk mengendalikan diri, nafsu dan syaitan dengan menolak Laghwi atau hal hal yang dapat elalaikan. Maka pada point ke tiga, Allah menjadikan ciri bagi orang Mukmin yang bahagia itu adalah membayar Dzakat. Dzakat adalah Hablum Minannas yang mengisyaratkan bahwa setelah memiliki hubungan kuat dengan Allah dan mengendalikan diri, nafsu dan syaitan, maka tiba saatnya berajak kepada suatu bentuk realisasi pengorbanan sosial. Sebab banyak juga orang Islam, kalau diperintahkan Sholat tidak terlalu berat baginya, sebab sholat modal dan kuncinya cuma Wudhu dan khusyu. Demikian juga pada point kedua dalam mengalahkan Hawa nafsu dan syaitan, tidak dibutuhkan pengorbanan harta, tetapi pengorbanan yang bersifat pribadi semata. Lainhalnya dengan Dzakat, ibadah satu ini juga secara dhohir adalah memiliki implikasi dan realisasi sosial yang sangat luas dan luar biasa khususnya bagi kesejahteraan atau Hablum minannas, tetapi secara hakiki, Dzakat juga merupakan hablum minallah, dimana Allah swt akan menjadikan tamu agung bagi setiap orang yang rajin berDzokat atau sedekah. Beberapa kehebatan dan keunggulan Dzakat :

Pertama, Dzakat adalah ibadah yang membutuhkan pengorbanan harta,sama seperti sedekah, Haji dan Kurban.

Kedua, Dzakat adalah merupakan instrument ekonomi islam yang memiliki fungsi yang sangat effektif dan effisien dalam menanggulangi masalah Kemiskinan yang merupakan masalah utama dunia global saat ini, disamping merupakan instrument ekonomi real kaum lemah yang merupakan fondasi kekuatan ekonomi dll.

Ketiga, Dzakat memiliki sifat alami yang tidak hanya membersihkan dan mensucikan harta dan jiwa bagi pemiliknya, tetapi juga memiliki sifat tanbah dalam kelipatan 100 %. Sebagai mana Rasulullah saw bersabda bahwa Dzakat dan Sedekah itu membersihkan dan mensucikan. Rasulullah saw juga bersabda “Anna likulli sadakatin miati habbah wallahu yudhoifu man yasyaa” Bahwa dalam setiap satu sedekah atau Dzakat itu memiliki nilai tambah kelipatan seratus dan sesungguhnya Allah swt akan memuliakan siapa saja yang dikehendakiNya”

4. Alladziinahum fii Furujihim Khafidzuun. Menjaga kemaluan adalah sesuatu yang hukumnya Wajib bagi setiap Muslim dan haram hukumnya melakukan Zina sebab tidak hanya berbahaya bagi moral tetapi juga bagi kemajuan kesejahteraan suatu masyarakat. Zina adalah salah satu dosa besar yang dapat melahirkan perbuatan perbuatan maksiat atau dosa dosa besar lainnya, seperti Korupsi, Perampokan, Pembunuhan dan Perjudian serta yang paling merugikan lagi adalah memusnahkan kekuatan generasi pelanjut. Alhamdulillah Negara Republik Indonesia secara Undang Undang telah mensahkan Undang Undang Anti Pornography. Ini adalah merupakan suatu kemajuan besar yang perlu kita dukung bersama, tidak hanya dalam bentuk tataran legal dan perangkat hukum tetapi juga harus terus kita dukung dalam tataran sosialisasi aplikasinya yang merata ditengah masyarakat. Hal ini tentunya mustahil dapat terwujud tanpa kita harus memulainya dari diri kita dan keluarga terdekat. Di dalam hadist dikatakan bahwa berzina tidak hanya akan melahirkan dan membawa berbagai macam kehancuran moral dan penyakit bagi masyarakat tetapi juga akan melahirkan kemiskinan. Karena itu, menjastifikasi perzinahan sebagai sumber pendapatan dan devisa negara seperti yang di jadikan alasan oleh sebagian orang orang tertentu yang fasik perlu dikaji ulang.

5. Alladziinahum Li Amaanaatihim hafidzuun. Ciri orang yang beriman yang kelima adalah mereka yang senantiasa menjaga dan mendirikan serta menyampaikan amanat yang telah diberikan kepadanya. Amanat disini memiliki pengertian yang sangat luas, baik itu amanah Risalah sebagai suatu amanah paling besar dan dahsyat, maupun amanah amanah lainnya yang bersifat pribadi maupun publik. Tidak heran, jika kemudian persoalan amanah ini juga menjadi salah satu tolak ukur yang memisahkan antara orang beriman dengan orang Munafik. Rasululah saw ; terdapat tiga ciri utama bagi orang munafik yaitu: “idzaa Wa’adah khalafah, Wa idzaa hadastah katsabah, Wa istatuminah Khonah”. Jika iya berjanji ia mengingkari janjinya, dan jika menyampaikan suatu kabar dan cerita, Ia berdusta, dan jika ia diberi amanat, ia menghianati amanat tsb. Karena itulah sehingga Allah swt banyak sekali didalam alQur’an mengancam keras para pendusta dan penghianat dengan kalimat pedas a.l: Wailulil Mukastibiinn,……dan lain sebagainya. Sebab dusta juga memiliki dampak dan pengaruh sosial yang sangat besar dimana dengan dusta tidak hanya kata dan fakta yang dapat dibolak balikkan yang kemudian mengakibatkan penyelewengan penyelewengan keuangan dan politik serta hukum. Tetapi dusta juga dapat mengantarkan pada kehancuran sebuah keluarga dan masyarakat disebabkan oleh apa yang disebut dusta.

Barang siapa yang memiliki ciri ciri kelima bentuk keimanan tersebut diatas kemudian merawatnya secara kontinyu dan berkesinambungan dengan cara pendekatan yang sama atau dengan menambahkan beberapa tips peningkatan dan perawatan iman seperti dengan membaca Al-Qaur’an dan Dzikir, berkumpul dengan orang Sholeh, berdakwah, membaca dan menambah wawasan ilmu dan iman, membaca sejarah orang orang yang beriman dalam meningkatkan keimanannya dst, maka Allah swt menjamin mereka dengan Surga Firdaus dan kebhagiaan serta kesejahteraan di dunia. Tahukah anda ttg apakah itu Surga Firdaus dan kebahagaiaan serta kesejahteraan di dunia.

III. Konsep Kesejahteraan dalam Islam.

1. Definisi Kesejahteraan.

Definisi Kesejahteraan dalam konsept dunia modern adalah sebuah kondisi dimana seorang dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, air minum yang bersih serta kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehingga memiliki status sosial yang mengantarkan pada status sosial yang sama terhadap sesama warga lainnya. Kalau menurut HAM, maka definisi kesejahteraan kurang lebih berbunyi bahwa setiap laki laki ataupun perempuan, pemuda dan anak kecil memiliki hak untuk hidup layak baik dari segi kesehatan, makanan, minuman, perumahan, dan jasa sosial, jika tidak maka hal tersebut telah melanggar HAM.

Lain lagi halnya dengan UNDP (United Nation Development Program), yang menjadikan batas minimal pendapatan sesorang dengan nilai $ 2 dollar Amerika perhari atau sekitar $ 60 USD perbulan atau kira kira sekitar Rp.600.000 perbulan, sebagai batas pendapatan minimal yang mana mereka yang mendapatkan penghasilan diluar batas minimal tersebut masuk dalam kategori dibawah garis kemiskinan. Jika yang dipakai adalah standard UNDP maka ditaksir, sekitar 65 % PDD Pakistan berada dibawah garis kemiskinan dan jika yang dipakai adalah standard modern Internasional maka tingkat kemiskinan Pakistan sesuai dengan hasil data statistik tahun 2005-2006 berjumlah 22.3 % menurut sumber resmi pemerintah walaupun menurut sumber Komisi perencanaan Pakistan mencapai 35 % dan jumlah tersebut menurut pakar ekonomi untuk saat ini telah mencapai 40 %.

Adapun, standard kesejahteraan suatu negara di ukur berdasarkan pada tingkat pendapatan, tingkat Saving, Ketahanan sandang dan pangan, kualitas pelayanan kesehatan, kesempatan pendidikan, transportasi, komunikasi berikut standard-standard material lainnya. Sedangkan standard hidup suatu negara dengan negara lain seringkali dibandingkan melalui ukuran tingkat pendapatan perkapita tahunan. Dalam sistem ekonomi keonvemsional “Capitalisme” misalnya, kesejahteraan sosial mengalami kesenjagan dalam realisasi aplikasi penerapannya yang didasarkan pada falsafah materialisme murni yang selanjutnya bergantung dan melepaskan sepenuhnya hajat kepentingan produksi dan konsumsi serta distribusi barang dan jasa manusia secara Invidu dan kelompok secara bebas dan tidak terbatas ditengah tekanan pasar bebas yang berakibat pada meroketnya harga yang memicu laju inflasi dan selanjutnya mengakibatkan stabilitas fiskal mengalami ancaman defisit yang sangat berat.

Dalam sektor keuangan, sistem pola kapitalisme yang mengandalkan kekuatan pasar modal dan keuntungan materialisme dengan menjadikan fungsi “uang” sebagai salah satu tonggak komuditas devisa mengalami tekanan berat disebabkan sifat inflasi yang mendongkrat tingkat suku bunga. Menumpuk bantuan Hutang dari lembaga Keuangan sudah menjadi kehilangan pupolaritas sebagai solusi dalam menanggulangi krisis keuangan disebabkan pengembalian hutang yang semula dimaksudkan memulihkan situasi keuangan justru menjadi beban multiple disebabkan persyaratan persyaratan yang pada umumnya dibebankan kepada Konsumen dalam bentuk penarikan pajak dan kenaikan suku bunga yang pada giliran tertentu mencapai titik klimaks break down dalam bentuk resesi seperti yang terjadi pada tahun 1930 dan sekarang ini dipenghujung tahun 2008 kembali melakukan pengulangan sejarah, menguburkan dunia kedalam liang lahat yang sama. Demikian juga dengan sistem Sosialisme yang bertumpuh pada kesejahteraan dan othoritas negara tetapi mengabaikan peran pasar dan kesejahteraan Individu. Lain halnya dengan sistem Fascisme yang mengandalkan kekuatan kekuasaan politik dan kekuatan kekuasaan tekanan militer. Sedangkan State welfare, berusaha menggabungkan antara kekuatan Kapitalisme dengan menggunakan kompas sosial. Menurut Umar Chapra, “sejarah kemanusiaan selama 300 tahun terakhir telah mengalami kepemimpinan Ekonomi dibawah pimpinan dunia Barat dengan bersandarkan kepada 4 ideologi sistem ekonomi yang disebut dengan Kapitalisme, Sosialisme, Nasionalist-Fascism dan Selfare State. Ke empat sistem tersebut memiliki dasar dan karakteristik pembaratan bahwa agama dan moralitas (Keimanan) adalah tidak relevan terhadap solusi masalah masalah ekonomi, bahwa hal hal yang berkaitan dengan permasalahan ekonomi lebih baik di selesaikan melalui tatanan hukum yang bersifat ekonomi dan tidak didasarkan kepada suatu tatanan sistem aturan moral (keimanan) yang dalam hakekatnya semua sistem tersebut telah mengantarkan pada krisis yang fatal.2

Adapun sistem kesejahteraan dalam Konsep ekonomi Islam adalah sebuah sistem yang menganut dan melibatkan faktor atau variable keimanan (nilai-nilai islam) sebagai salah satu unsur fundamental yang sangat asasi dalam mencapai kesejahteraan Individu dan kolektif sebagai suatu masyarakat atau negara. Variable atau faktor keimanan tersebut menjadi salah satu tolak ukur dalam menentukan menu Produksi, menu Konsumsi dan menu Distribusi barang dan jasa sebelum kemudian memasukkannya kedalam sirkulasi hukum pasar sehingga terjalin suatu keselarasan dan kompas keseimbangan antara tekanan kepentingan dan hasrat kepuasan Individu disuatu sisi dengan tekanan kepentingan keuntungan pasar disisi lain yang diformulasikan melalui berbagai hasil kebijakan lembagas sosial ekonomi masyarakat dan negara dalam bentuk kebijakan yang juga berasaskan dasar nilai nilai keimanan, sehingga terjalin suatu stimulasi dan sosialisasi ekonomi yang berkesinambungan yang dapat mengantarkan Individu dan masyarakat yang beriman sampai kepada puncak makasidus Syariah yaitu” Baldatun tayyibah wa Rabbun Ghofur”. Hal ini dapat dirumuskan melalui realisasi penerapannya dalam bentuk diagram “ General Equlibrium Ekonomik Keimanan oleh Masud Alam Choudry * sbb :

Diagram General Ethico-Economic Equilibrium 3

Box Pasar/ Masyarakat Box Kebijakan

EP

EP

P

P Tindakan

C

D

S

I

SC

Interaksi

C = Consumsi/Konsumsi

P = Price (Harga)

D = Distribution/Distribusi

S = Ethical Sosial Product/ hasil Produksi barang/jasa /distribusi Ethis/Keimanan

SC = Sosial Consensus / Hasil Konsensus Sosial

I = Syura Board Committee.

E = Ethik ( keimanan)

Secara umum diagram Equilibrium Ekonomik Keimanan tersebut diatas dapat difahami dengan membaca bahwa setiap pola Konsumsi Individu atau kelompok yang dilakukan atas dasar assumsi keimanan saling berkaitan yang memiliki hubungan positif terhadap Harga dan mekanisme pola pendistribusiannya. Setiap bentuk aktivitas konsumsi, harga dan distribusi tersebut sangat dipengaruhi oleh variable keimanan. Variable keimanan tersebut kemudian menciptakan dan melahirkan product sosial yang selanjutnya akan mengirimkan signals dan isyarats feed back kearah Box kebijakan dengan dua cara. Dalam jangka pendek, lembagas sosial dan ekonomi serta pemerintah akan mendapat pengaruh untuk merevisi kebijakan kebijakan ekonomi berdasarkan aturan falsafah keimanan dan interaksi terus berlanjut. Dalam jangka panjang, SC yang merupakan Konsensus Sosial (National Syariah Board) dapat dibentuk. SC akan lebih memberi pengaruh terhadap takaran ethik dan faktor keimanan untuk mencapai kualitas equilibrium yang mengantarkan kepada kesejahteraan dan keadilan setiap Individu dan kelompok masyarakat dan negara yang melibatkan semua unsur.

Islam adalah sebuah agama yang konprehensif yang tidak tidak hanya membahas dan meberikan dasar dasar kehidupan ibadah dan ritual semata tetapi yang terpenting dari itu adalah Islam menawarkan sistem dan frame work kehidupan sosial masyarakat baik dalam bentuk ekonomi, pertahanan maupun hukum. Konsep tersebut bukan suatu harga mati yang harus dipaksakan tetapi suatu alternatif yang dapat menjadi opsi alami yang bersesuaian dengan sifat dan tuntutan phsychology dasar manusia yang tertarik terhadap kesinambungan, sustainable dan fleksible yang effektif dan effisien selaras dengan mekanisme perkembangan tuntutan dunia global. Sebab bagaimanapun, Islam sangat membenci kemiskinan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Rasulullah saw bahwa kemiskinan itu dapat mengantarkan manusia kepada kekufuran. Disni Rasulullah saw seakan akan menganalogikan kesejahteraan sebagai salah satu unsur dan media utama yang pokok yang dapat menjaga dan mengantarkan kepada keimanan. Sebaliknya, kemiskinan dapat membuat dan menggelincirkan manusia kepada kekufuran. Hal ini membuktikan tentang adanya korelasi dan interlink yang sangat kuat antara Keimanan disuatu isisi dan Kesejahteraan disisi lain yang menyerupai pohon dan buah. Dalam riwayat disebutkan Sayyidina Omar Bin Khattab menegaskan bahwa “seandainya Kemiskinan itu adalah sesuatu yang berbentuk makhluk, maka sudah kutebas lehernya”. Walaupun demikian, tidak juga berarti bahwa Kesejahteraan adalah jaminan untuk dapat beriman sebab dalam realitas keseharian, sering kali kesejahteraan juga adalah merupakan biang kerok atau liang kubur dan perangkap yang dapat mengantarkan kepada kekufuran. Disini “keimanan” menuntut untuk mendapatkan tempat dan porsinya yang sesungguhnya.

2. Beberapa Ayat Al-Quran dan Hadist Rasulkullah saw yang mendukung dan memicu untuk dapat mencapai keimanan dan kesejahteraan dunia akhirat al :

i. Dalam Surat Muhammad ayat 7 Allah berfirman Allah swt berfirman, jika kamu menolong agama Allah niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan dialam Surat AsTsuur ayat 21 s/d 24 Allah berfirman: Dan bagi Orang orang yang beriman, yang iman mereka di ikuti oleh anak cucu mereka dengan keimanan pula akan kami hubungkan mereka dengan anak cucu mereka, dan tiada kami kurangi sedikitpun dari pahala mereka, tiap tiap manusia sesuai dengan usaha pekerjaannya. Lalu kami beri mereka tambahan dengan buah buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan. Kemdian kami masukkan kedalam surga yang didalamnya mereka saling berlomba mendapatkan gelas piala yang isinya sangat menakjubkan sehingga tak dapat mengeluarkan kata kata yang tidak berfaedah ataupun perbuatan dosa, dan mereka dikelilingi biadadari dan pemudas yang melayani mereka seakan mutiara yang tersimpan.

ii. Bahwa sesungguhnya Allah swt Maha Pemberi rejeki dan Maha berkuasa Menentukan segala sesuatu Keadaan” Didalam ayat lain Allah berfriman: Dan katakanlah bahwa Allah swt adalah Raja diatas Raja, yang dapat memberikan kerajaan dan kekhalifaan terhadap siapa saja yang dinginkannya, … sampai kepada akhir ayat dan Dialah yang memberikan Rejeki tanpa perhitungan dan pengadilan. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak beriman Allah menegaskan tentang harta kekayaan mereka itu sama sekali tidak akan memberikan kekayaan, walaupun jumlahnya bertumpuk.

iii. “Dan Tak satu Kenderaanpun dilangit dan Bumi kecuali Allah pasti memberikan Rejeki kepadanya”.Dan Allah swt yang telah menurunkan hujan dari langit dan kemudian menjadikan tumbuh tumbuhan tumbuh segar dan berbuah, maka hendaklah kalian jangan mengambil perlindungan dan persamaan terhadap kekuasaan Allah swt sedangkan kamu mengetahui” Dan dialah yang telah memberikan rejeki terhadap kalian, dan Dia jugalah yang menentukan jumlah kadar banyak sedikitnya, dan Dia jugalah yang mengangkat derajat sebagain dari pada kamu atas sebagian yang lain.Dan dialah yang mengankat derajat orang yang beriman dan orang yang berilmu.

Didalam kitab Al-Kawasyif Al-Jalilah Karya Abdul Aziz Muhammad Sulaiman memberikan suatu contoh kongkrit tentang bagaiaman hebatnya Allah swt mengatur seluruh jagat raya, alam langit dan bumi ini sedemikian rupa sehingga tidak saling tabrakan dan diberinya rejeki kepada setiap yang hidup dianataranya dengan seruan “ Perhatikanlah Janin yang berada dalam perut ibunya, walaupun janin tersebut belum lagi dapat mencari Rejeki bagi dirinya, tetapi Allah swt telah mengatur suatu proses yang luar biasa dalam memberikan makanan kepada janin tersebut melalui saluran darah Ibunya, demikian juga ketika Janin tersebut menjadi bayi dan lahir kebumi ini, tak seorang bayipun yang diabaikan oleh ibunya kecuali orang orang yang tidak beriman dan kufur terhadap “Rahmat Allah swt”4 ( Al Kawasyif Al Jalilah Hal.143).

3. Perbandingan Kesejahteraan bagi Mukmin dan Non Muslim.

Ada suatu kaidah umum yang perlu kita simak dan perhatikan dan garis bawahi bersama, bahwa Allah swt melimpahkan dan memberikan rejekinya atau kesejahteraan dalam bentuk materi, anak, istri dan gedung mewah dst tanpa melihat latar belakang agama dan keimanannya. Baik Muslim ataupun Non Muslim, Yahudi, Nasrani dan Budha, bahkan atheis sekalipun telah dijamin Rejekinya oleh Allah swt, terlebih lagi jika mereka menindak lanjuti pemberian tersebut dengan usaha keras dengan faham materialisme kental dan pengelolaan management yang baik,sebagai rahmat Allah terhadap seluruh manusia tanpa perbedaan agama, ras, kulit ataupun warna dan negara. Siapa yang berusaha pasti mendapatkannya. Namun demikian, Allah swt memberikan penghususan terhadap orang yang beriman, maaf dalam hal ini saya lebih memilih memakai istilah orang beriman dari pada istilah orang islam atau Muslim sebab orang yang beriman setingkat lebih diatas dari orang Islam dimana kedua terms ini seringkali terjadi silang penggunaan. Allah swt memberikan banyak kekhususan terhadap orang orang yang beriman, antara lain bahwa Allah memberikan kekhususan “ Nikmah atau Nikmat” kepada orang orang yang beriman. Nikmat berbeda dengan rejeki.

Jika rejeki hanya bersifat materi dan dapat menghantarkan kepada kesulitan, kesempitan kerusakan dan kehancuran. Sedangkan Nikmat adalah rejeki yang tidak hanya bersifat materi tetapi juga memiliki sifat ruh yang non materi yang mengantarkan kepada kebaikan, keluasan dan menjadi alat penolong dalam mencapai kebahagiaan di negeri sementara dan kenimatan akhirat yang abadi. Nikmat juga memiliki konotasi makana yang berarti perkembangan dan perputaran rejeki yang multiple tidak hanya dalam bentuk jumlah tetapi juga dalam bentuk fungsi dan manfaat dari rejeki itu sendiri. Selain itu, orang Mukmin juga selain diberi rejeki, dan nikmat, juga memiliki peluang mendapatkan Kasih sayang dan pemahaman atas Kitab dan sunnah serta Hikmah atau Ilmu yang bermanfaat dunia akhirat yang merupakan bentuk kasih sayang Allah yang sangat besar terhadap Hambanya yang beriman, tetapi dengan suatu syarat yaitu harus disertai dengan ”Usaha dan Syukur” dalam artian yang hakiki. The last but not the least, orang yang beriman juga memiliki peluang mendapatkan Mahabbah wal sultan yang merupakan kenikamatan dan kekuatan dunia dan surgawi di atas muka bumi ini sebelum memasuki Surga yang tak ada mata yang pernah melihatnya, yang kenikmatannya disuguhkan melalui bida dari surgawi yang aduh tak tahan melukiskan kecantikan dan kegantengan paras wajah dan senyumnya yang manis merekah memanggil manggil dengan sebutan cinta.

4. Produktivitas orang Mukmin. Untuk dapat mengetahui sejauh mana produktivitas orang Mukmin, maka terlebih dahulu kita sedapat mungkin bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan mahluk produktivitas itu dan faktor faktor apa yang menyebabkan seseorang patut menyandang predikat produktif. Secara umum Prodiktivitas dapat di definisikan sebagai tingkat kemampuan menghasilkan dan menciptakan barang atau jasa (out put) bagi setiap unit upaya (input) yang dikeluarkan dengan hasil out put yang berkualitas terbaik dan jumlah unit kuantitas out put maksimal dengan input seminimal mungkin. Dengan kata lain, produktivitas adalah pendaya gunaan input dan out put secara effisien dan effektif, yang jika diukur dari segi harga maka harga perunit dari out put dari hasil input sama dengan Harga rata rata ( Marginal Cost) P=MC dalam suatu pasar yang sempurna (perpect). Ini berarti bahwa pasar hanya dapat mencapai effektivitas dan effisiensi dalam kondisi perpect jika barang atau jasa yang dihasilkan adalah barang dan jasa yang tepat untuk konsumen yang tepat dan harga yang sesuai pula. Persoalannya, pasar tidak pernah mencapai posisi sempurna disebabkan baranag dan jasa serta harga dan konsumen juga tidak pernah perpect dan tepat dalam konsep ekonomi konvensional. Belum lagi masalah birokrasi dan regulasi Undang Undang yang sangat kompleks dan seterusnya.

a. Faktor Faktor kekuatan produktivutas. Menurut Marxis, dalam kitabnya The Wealth of Nation kekuatan produktivitas bergantung kepada beberapa factor; pertama, sarana yang dipakai oleh producer (Means of Labour) yaitu peralatan, mesin , infra struktur, materi dst. Kedua, bergantung pada kekuatan dan kemampuan serta Skills dari Producers (Labour Power) yaitu Jazad, otak, Tehnik Skills/Ilmu termasuk management dan sosial kontrol.

Berdasarkan konsept dan definisi umum tentang produktivitas dalam pandangan ekonomi konvensional nampaknya terdapat beberapa tantangan, jika kita tidak menyebutnya kendala bagi Orang Orang Mukmin untuk terlalu dini mengklaim sebagai pihak yang seharusnya menjadi Umat yang productive, walaupun dari beberapa segi lain, Orang orang Mukmin memiliki keunggulan yang perlu disosialisasikan dan diamalkan.

b. Kendala dan keunggulan Produktivitas orang orang Mukmin.

Beberapa Kendala Utama Produktivitas orang orang Mukmin.

1). Kendala Skils dan ilmu pengatahuan, Skills dan Management.

2). Kendala Kultur dan pendidikan

3). Kendala Tehnology.

4). Kendala Politik, Birokrat, Undang – Undang dan Regulasi.

Beberapa Keunggulan yang dapat menjadi sumber kebangkitan.

1). Sumber tatanan dan frame work dasar serta visi yang bersifat baku dan memerlukan pengembangan.

2). Sumber Daya Manusia yang sangat besar.

3). Sumber Geoghraphy yang sangat strategis

4). Sumber Potensi Alam yang sangat menunjang.

5). Sumber keimanan dan Moral yang sangat akut. Dll

Berdasarkan atas faktor-faktor keterbatasan kendala dan Faktor Faktor keungulan produktivitas tersebut, Al Mukminin memiliki modal yang sangat besar yang tak kalah pentingnya dibandingketerbatasannya untuk dapat memburu ketinggalannya. Salah satu langkah effektif yang diharapkan adalah mendesaknya untuk melakukan islamisasi terhadap perekonomian masyarakat Mukmin untuk menghapus ketidak seimbangan ekonomi berdasarkan ekonomi pembangunan yang divisualisasikan dan ditawarkan oleh Islam disetiap lapisan. Tugas ini adalah merupakan tugas terberat yang membutuhkan perubahan paradigma dan prilaku yang pada gilirannya dapat diharapkan melahirkan suatu kebijakan pada tahap Nasional. Ini mungkin adalah merupakan salah satu sebab kenapa Negara Republik Indonesia memiliki falsafah negara yang berasaskan pada nilai nilai agama dan demokrasi serta nilai nilai kulltur lokal dapat terus menjadi pemicu bagi bangkitnya suatu generasi Mukmin yang lebih produktif . Maka tidak heran jika Allah swt menantang dengan berfirman “ Katakanlah apakah sama antara orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu”. Dalam Ayat lain Allah swt berfirman,Watilka Ayyam Nubaddiluha Linnasi, laallahum yatafakkarun”, bahwa “Dan pada hari itu kami tukar posisi manusia, agar manusia itu dapat berpikir”.

Referensi :

Al-Quranul Karim.

Hadist Arbain, oleh Imam Nawawi.

Hadis Sunan Abu Daud.

*Masud Alam Choudry adalah Professor Universitas Ekonomi di College of Café Breton, Sydney dan Nova Scoti, Canada.

1. Hadist Arbain oleh Imam Nawawi. (Hal.20s/d 21).

2. Islam and Economic Challenge (xiv)

3. Role of Private and Public Sector in Economic Development ini an Islamic Prespective, Edited by Ehsan Ahmed. P.31

4. Kitab Al Kawasyif Al Jalilah Hal.143.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: